Sabtu, 23 Maret 2013
Berbagai Bentuk Karamah, Keadaan Dan Bentuk Yang Diduga Ada Pada Tasbeh
Mereka telah menganggap tasbeh memiliki berbagai karamah, keadaan dan bentuk yang tidak mungkin disebutkan di dalam kitab ini. Di antaranya, kisah yang telah disebutkan terdahulu yang bersumber dari Abu Muslim al-Khaulani, lalu tasbeh milik Abul Wafa yang baru saja disebutkan di atas, juga kisah yang telah disebutkan oleh Imam as-Suyuthi, seraya berkata, ‘Sungguh aku telah diberi informasi oleh seorang yang aku percaya?!, bahwasanya dia pernah bersama suatu kafilah (rombongan) dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis, lalu tiba-tiba dihadang oleh sekelompok orang-orang Arab yang menelanjangi seluruh anggota rombongan tersebut dan termasuk diriku. Ketika orang-orang tersebut melepas surbanku, maka tasbeh jatuh dari kepalaku terjatuhlah, dan mereka pun melihatnya, maka mereka berkata, “Orang ini mempunyai tasbĂ®h.” Lalu mereka pun mengembalikan kepadaku barang-barang milikku yang telah diambil, dan aku pun pergi dalam keadaan selamat dari ulah mereka.”
Pengalungan tasbeh di leher
Sebagaimana mereka juga telah mencatat, bahwa sebaiknya bagi seorang fakir (istilah dalam ajaran sufi) jika telah selesai menggunakan tasbeh berukuran sedang yang sesuai dengan bacaan dzikir, hendaknya ia mengalungkannya di lehernya, sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan kepada benda itu. Di dalam kitab “al-Minan”, al-Quthb (Kedudukan tertinggi dalam tingkatan para wali) asy-Sya’rani rahimahullah bercerita: “Pernah suatu kali kakiku menginjak tasbeh, maka aku hampir saja terpelanting karenanya demi memuliakan tasbeh tersebut.”.
Hal itu harus dilakukan, karena pengalungan tasbeh di leher lebih memelihara dan menjaga tasbeh dari tindak penghinaan, peremehan dan penghancuran. Mengalungkan tasbeh di leher juga berguna untuk
Langganan:
Postingan (Atom)