Ada dialog yang cukup
menggugah dan terjadi pada masa 'Amr Ibn Al-'Ash. Di siang hari, saat sedang
istirahat, datanglah putra 'Amr Ibn Al-'Ash berkata kepadanya, "Wahai
Ayahku, terangkanlah kepadaku tentang kematian. Sebab, engkaulah orang yang
paling tepat bagiku untuk menerangkan masalah itu." 'Amru Ibn Al-'Ash
merasa senang bercampur takut. Senang, karena anaknya mampu menjadikan dirinya
bukan hanya sekedar ayah, tapi juga tempat bertanya dan berkeluh kesah.
Takut, karena pertanyaan
yang diajukan anaknya adalah pertanyaan yang cukup berat untuk dijelaskan.
Sebab, tak ada seorang pun yang berani mengilustrasikan beratnya kematian itu.
Dengan santai dan penuh kehati-hatian, 'Amr Ibn Al-'Ash menjawab, "Wahai
anakku, Demi Allah, sungguh kematian itu seperti gunung-gunung yang ada di
dunia ini sedang diletakkan di dadaku dan aku bernapas seperti bernapas dari
lubang jarum." Mendengar jawaban 'Amr Ibn Al-Ash, sepertinya kematian itu
cukup berat sekali. Seakan-akan tak sebanding dengan kehidupan yang dijalani di
dunia ini. Padahal, kehidupan dan kematian adalah pasangan yang ditakdirkan
oleh Allah SWT. Namun, kematian yang dikatakan 'Amr Ibn Al-'Ash itu adalah
kondisi umum yang akan terjadi pada manusia yang memiliki bekal kematian.
Dan, jawaban itu
bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah. Di dalam surat Al-Hijr ayat 84,
Allah SWT berfirman, "Maka tak dapat menolong mereka apa yang mereka
usahakan." Memahami firman Allah tersebut, akan semakin membuat kita kian
goyah dan kian takut menghadapi kematian yang akan dialami nanti dan terasa
cukup berat sekali. Karena apa yang diusahakan di dunia ini akan sia-sia. Harta
banyak yang telah diusahakan tidak mampu membantu. Isteri cantik yang
dibanggakan selama ini tak bisa menolong. Anak yang pintar tak bisa membantu
saat kematian menghampiri. Nyaris kondisi kita seperti apa yang dikatakan
Rasulullah dalam haditsnya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Tiada lain kondisi mayat di dalam kuburnya kecuali seperti orang
tenggelam yang mencari pertolongan." Maka tepat apa yang dikatakan Abu
Bakar Ash-Shiddiq RA tentang kematian, "Siapa yang masuk kubur tanpa
bekal, seperti halnya melintasi laut tanpa perahu." Hanya kalimat hauqalah
yang bisa kita ucapkan mendengar komentar Umar bin Khattab tentang kematian. La
Haula Wala Quwwata Illa Billah.
Lalu, bekal apa yang
harus dicari agar kita bisa bernapas sekalipun seperti bernapas di lubang
jarum? 'Aid Al-Qarni dalam bukunya Wa Ja'at Sakrat Al-Maut bi Al-Haqq
menyatakan paling tidak ada empat hal yang harus dilakukan umat Muhammad agar
memiliki bekal di dalam kubur.
Pertama, sering
menziarahi kubur. Dengan ziarah kubur, akan mengingatkan kita bahwa suatu saat
kita akan merasakan seperti apa yang dirasakan si mayat di dalam kubur. Dari
salam yang diucapkan penziarah hingga pertanyaan yang diajukan malaikat di
dalam kubur. Dengan ziarah kubur, kita akan merenungkan bahwa kematian telah
memisahkan kita dari segalanya yang ada di dunia ini dan mencampakkan kita ke
dalam lubang yang gelap gulita. Tak ada lagi isteri, anak, harta, dan pakaian
yang dibanggakan. Kematian menghapuskan semua itu dan memasukkan kita ke dalam
lubang yang mengerikan.
Kedua, menziarahi orang
shaleh. Dengan seringnya mengunjungi orang shaleh dan mendengarkan nasehatnya,
akan membuat kita terasa tenang, sekalipun kematian itu berat. Karena bernafas
bagaikan dari lubang jarum yang dikatakan 'Amr Ibn Al-'Ash adalah gambaran umat
Muhammad yang memiliki bekal kematian. Orang shaleh yang paling baik adalah
orang-orang yang mengetauhi ilmu syari'at serta mendalami Al-Qur'an dan Hadits
Rasul. Karena mereka hidup selalu diiringi dengan hujjah yang jelas dan
memiliki firasat yang tajam dan akurat sebagai rahmat dan anugerah dari Allah
untuk mereka. Bahkan Rasullullah sangat menganjurkan untuk berteman dengan orang
shaleh yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Rasulullah SAW bersabda,
"Bertemanlah kalian dengan ulama dan dengarkanlah perkataan hukama' (ahli
hikmah). Karena Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah
sebagaimana menghidupkan tanah gersang dengan hujan." Bukan hanya itu,
Allah SWT juga berfirman tentang pentingnya berteman dengan orang shaleh dalam
surat Az-Zukhruf ayat 67, "Teman-teman akrab pada hari itu sebagian
menjadi musuh bagi sebagian lain kecuali orang-orang yang bertakwa."
Ketiga, membaca
Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kalam Allah SWT yang terdapat di dalamnya
penjelasan tentang kematian, bekal yang dibawa, dan kehidupan yang akan
dirasakan di dalam kubur. Dengan aktif membaca Al-Qur'an, seorang muslim
menghadapi kematian tidak lagi dalam kondisi penuh ketakutan. Ia masih mampu
bernafas, meskipun seperti kata 'Amr Ibn Al-'Ash seolah-olah bernafas dari
lubang jarum. Karena Rasulullah SAW menceritakan bahwa orang yang rajin membaca
Al-Qur'an akan mendapatkan syafa'at dari Al-Qur'an itu sendiri. Rasulullah SAW
bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang kepada
para pembacanya kelak di hari kiamat dengan membawa syafa'at." Bukan hanya
itu saja, Rasulullah SAW juga mengkategorikan orang yang aktif membaca Al-Qur'an
sebagai umat terbaiknya. Rasulullah SAW berkata, "Sebaik-baik kalian
adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." Subhanallah,
begitu mulia kedudukan pembaca Al-Qur'an. Dengan membaca Al-Qur'an, bekal yang
dibawa sudah apik, apalagi jika Al-Qur'an telah tertanam dalam hati seorang
hamba, maka ia akan memberikan pengaruh dan manfaat yang sangat luar biasa bagi
hamba tersebut.
Keempat, mengurangi
cita-cita yang bersifat dunia. Artinya, cobalah untuk tidak takluk dengan
dunia. Jadikan dunia dan isinya hanya sebagai kendaraan untuk mendapatkan ridha
Allah SWT. Karena dunia bukanlah tempat terakhir bagi kita. Masih ada tempat
pertanggungjawaban yang melahirkan vonis apakah kita masuk penduduk yang
merasakan nikmatnya jamuan-jamuan surga ataukah kita masuk penduduk yang harus
berdomisili dulu di tempat pembalasan atas perbuatan keji kita di dunia dulu.
Maka Rasulullah SAW selalu menasehati para sahabat dengan mengatakan,
"Hiduplah di dunia ini bagaikan seorang pengembara." Sehingga, pesan
Ibnu Umar layak untuk diingat, "Jika engkau sedang berada pada hari ini,
maka janganlah engkau tunda-tunda sampai hari esok. Jika engkau sedang berada
pada waktu sore, maka janganlah engkau tunda-tunda hingga pagi hari.
Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu dan pergunakanlah hidupmu sebelum
datang matimu." Karena itu, marilah bertobat dan aktif berbuat baik.
Tidaklah ada persiapan diri untuk menghadapi kematian yang lebih baik kecuali
dengan menyegerakan diri bertobat dan senantiasa memperbaharui tobat dari hari
ke hari. "Setiap yang berjiwa, pasti akan merasakan mati." (QS. Ali
Imran : 185). Demikianlah Allah menegaskan tentang keberadaan kematian. Maka
Sabda Rasulullah SAW, "Perbanyaklah olehmu mengingat si pencabut semua
kesenangan." Kematian dikatakan sebagai si pencabut nyawa karena ia
memisahkan seseorang dari apa pun dan siapa pun yang dicintainya dan akan
ditempatkan ke dalam lubang yang gelap gulita. Semoga dengan bekal-bekal yang
dijelaskan di atas, kematian dan gelapnya kubur tidak lagi menjadi hal yang
begitu mengerikan sekali. Aamiin.
Sumber : http://kotasantri.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar