Setiap hari aku bangun pukul empat subuh. Kubaca do'a bangun tidur dan berniat untuk melakukan pekerjaan semata-mata ibadah kepada Allah SWT. Meski kantuk masih menggantung di pelupuk mata, aku harus bangkit dari kasur yang empuk dan hangat.
Aku menggeliat dan meregangkan tubuh, duduk di tepi ranjang. Kubangunkan suamiku. Tetapi seperti biasa dia hanya bolak balik untuk beberapa saat. Kadang-kadang malah tertidur lagi. Pastilah dia masih letih karena bekerja hingga larut malam.
Aku.berjalan menuju dapur. Minum segelas air putih dan mencuci setumpuk piring kotor bekas makan malam. Air kran yang dingin mempercepat gerakan tanganku yang sudah lincah mencuci perabotan dapur. Sambil mencuci, aku teringat nasehat Guru ngaji kami untuk membaca Bismillah setiap memulai pekerjaan. Bismillah. Juga aku mengingat kata-kata Beliau untuk selalu berniat agar semua pekerjaan yang kita lakukan adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Aku tersenyum. Hatiku merasa damai dan kupasrahkan semuanya pada Illahi. Dan, benar saja. Semua pekerjaanku beberapa hari terakhir terasa ringan. Tak ada lagi perasaan sesak dan letih yang mendera. Ku akui, selama bertahun-tahun aku merasa rutinitas pekerjaan di rumahku seolah seperti sebuah beban berat yang kupikul kemana-mana.
Selesai mencuci aku menjerang air di cerek. Kurebus pula air untuk memasak sayur bening. Untunglah tadi malam aku sudah memasak nasi. Kuambil seikat bayam dan sepotong labu kuning dari lemari pendingin. Sambil menyiangi sayuran aku berusaha mengingat-ingat jadwal kegiatan hari ini. Apa dan kemana hari ini. Hmmm, sepertinya tidak ada.
Sayup-sayup suara mengaji terdengar dari Mesjid di seberang jalan. Tidak lama lagi azan Subuh akan berkumandang. Kupercepat gerakan tangan memotong dan mengiris sayuran. Cerek sudah menjerit menandakan air telah matang. Kuangkat dan kutuang isinya ke dalam termos air panas. Hhuff!! Kepulan uap panas menerpa wajahku yang dingin.
Sesudah itu ku panaskan rinjing untuk mendadar telur. Dua butir telur itik kupecahkan dalam sebuah mangkok. Kocok. Tambahkan bawang merah dan tomat iris. Garam, lalu kocok lagi. Ini adalah menu sarapan pagi yang selalu kusiapkan untuk anak-anakku. Kumasukkan sayuran ke dalam panci, kutuang kocokan telur ke dalam rinjing. Sepuluh menit kemudian semua masakan sudah matang. Tinggal menyajikannya.
Gema azan Subuh berkumandang lantang membelah gelapnya malam. Hatiku bergetar. Allohu Akbar. Sungguh Engkau Maha Besar yang telah menghidupkan dan memberi kami rezeki. Aku mengulang lafazh-lafazh azan. Berdo'a mengagungkan-Nya.
Kuketuk pintu -pintu kamar anakku membangunkan mereka. Ini adalah kewajibanku sebagai seorang ibu yang harus memberi contoh dan
menanamkan kebiasaan baik kepada mereka. Mereka adalah remaja-remaja
yang harus dituntun, dibujuk dan diberi peringatan agar selamat dunia
dan akhirat. Insya Allah. Sebab siapa lagi yang akan menuntun mereka
kalau bukan orang tuanya?
Mereka masih belia dan masih harus banyak
dibimbing.
Aku bergegas ke kamar membangunkan suamiku. Dengan malas suamiku membuka matanya. Diraihnya tanganku ke arahnya, dikecupnya kening dan pipiku. Ini salah satu kebiasaannya yang selalu membuatku bangga sebagai istri. Dipeluk dan dicium mesra. Usiaku tidak terpaut jauh dengannya. Empat puluh lima tahun dan uban mulai muncul di sela-sela helaian rambut kami. Kami pun berpelukan mesra saling menghangatkan diri. Darahku mengalir nyaman. Tangan suamiku yang kekar memijit lembut punggungku. Membelai rambutku yang panjang. Hmmmm.....
Bermesraan seperti inipun adalah suatu bentuk ibadah yang membahagiakan. Berapa banyak pasangan suami istri yang masih memiliki kemesraan seperti kami?
Ketika usia perkawinan memasuki angka duapuluh tahun?
Berapa banyak pasangan yang tidak bahagia dan berakhir dengan perceraian?
Ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan itu. Langgengkanlah hubungan kami dunia akhirat.
Kunikmati belaian suamiku. Kebahagiaan ini menghapus semua lelahku. Kubisikkan bahwa kita sebaiknya segera sholat ke Mesjid terdekat. Dia mengiyakan dan segera bangkit. Berwudhu dan berpakaian. Kami berjalan di udara dingin. Langit masih gelap. Kaki melangkah sambil melantunkan dzikir. Subhanalloh, Wal Hamdulillah, Allohu Akbar........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar