Sebatang pohon alpukat yang tumbuh di belakang rumahku mulai berbunga. Harapanku buahnya yang besar-besar akan muncul dengan sempurna. Tanaman ini tumbuh dari biji yang aku lemparkan enambelas tahun silam. Waktu itu aku sedang mengandung anakku yang sulung. Entah mengapa aku sangat suka makan alpukat yang diberi susu kental manis dan dua kotak es batu. Menurut sahabatku ngidamku ini tidak seperti kebanyakan wanita lain yang gemarnya makan rujak.
Bagiku rasa buah alpukat sangat nikmat. Aku membaca sebuah artikel di majalah bahwa buah alpukat kaya nutrisi. Mengandung lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi penderita darah tinggi dan kolesterol. Kaya vitamin E dan serat.
Sebetulnya biji buah ini aku lemparkan di halaman rumah kontrakan kami. Waktu itu suamiku masih bergaji kecil dan belum mampu membeli rumah. Hanya empat bulan kami sempat serumah dengan mertuaku. Karena penghuni rumah mertuaku sudah cukup padat, suamiku memutuskan untuk mengontrak di tempat yang lain. Akupun waktu itu sudah mulai mengandung anak yang pertama. Hitung-hitung sambil belajar mandiri dan menyiapkan kamar si kecil.
Rumah kontrakan yang kami tempati sangat sederhana, tetapi lingkungannya nyaman dan asri. Kamarnya ada tiga kecil-kecil. Setahun kemudian kami pindah ke rumah sendiri yang dibeli secara kredit. Aku membawa semua perabotan termasuk pot bungaku dan tanaman alpukat yang sudah tumbuh setinggi setengah meter ini. Pikirku sayang kalau sampai dicabut dan dibuang oleh si empunya rumah kontrakan. Lagipula bijinya berasal dari buah yang besar.
Aku memang sangat senang dengan tanaman bunga dan buah. Bakat ini diwariskan oleh ayahku seorang pecinta tanaman. Meskipun ayah selalu sibuk dengan urusan bisnisnya, tetapi Beliau selalu menyempatkan diri untuk merawat bunga anggrek dan tanaman buah di dalam pot. Nasehatnya kepadaku masih terngiang jelas. Bila kita menanam satu batang pohon, maka sepuluh ekor binatang akan hidup dan makan dari pohon itu. Dan setiap binatang yang mengambil manfaat dari pohon itu akan mendatangkan kebajikan kepada orang yang menanamnya. Aku senang dengan cerita itu.
Saat ini pohon alpukatku sudah tua. Pertama kali berbuah pada waktu memasuki tahun keenam. Buahnya besar-besar dan tebal. Aku dan suamiku sangat senang. Berkarung-karung hasilnya. Sebagian besar dibagikan kepada sanak keluarga dan tetangga. Namun sayang sekali, sudah dua tahun terakhir ini buahnya mulai berkurang. Ditambah lagi dengan terpaan hujan lebat, putik bunga bakal buahnya malah rontok dan rusak.
Aku masih mengharapkan keajaiban. Siapa tahu buahnya yang besar-besar masih mau muncul di ranting-rantingnya yang kecil. Sebab bila pohon alpukatku tak berbuah lagi, maka kami memutuskan akan menebangnya. Kami kuatir kalau batangnya yang besar melapuk dan tumbang menimpa dinding pagar dan atap rumahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar