Senin, 09 April 2012

Sepasang Sendal Baru

Jam dinding di kantorku berdentang  dua belas kali. Masih ada beberapa halaman laporan yang harus ku copy. Printer di kantorku tersendat-sendat. Rupanya sehelai kertas terpasang miring dan membuatnya macet. Selagi aku membetulkannya,
temanku Mila memanggilku. Katanya ada penjual sepatu dan sendal dari Cibaduyut yang sedang menjajakan barangnya di teras samping.

Kurapikan halaman terakhir pekerjaanku. Aku memang berencana membeli sendal untuk anakku yang sulung. Beberapa teman pria yang lainnya sedang memilih-milih dan mencoba sepatu yang ditawarkan. Ada juga beberapa sendal wanita. Sendal-sendal pria cukup bagus. Si penjual mempromosikan dagangannya, bahwa jahitannya kuat dan solnya tahan air. Kupegang sepasang dan menanyakan harganya. Si penjual menyebukan sejumlah angka. Aku masih pikir-pikir. Kutawar dibawah separuh harga. Alhamdulillah, kata si penjual karena aku sudah mulai menawar. Kutanyakan nomor yang kuinginkan. Katanya ada. Tapi aku bersikeras dengan tawaranku. Dia merayu dan berusaha meyakinkan bahwa barangnya tidak akan mengecewakan. Setelah kunaikkan sedikit, barulah deal. Dengan sigap dicarinya sendal bernomor pilihanku. Sepasang sendal model sederhana berwarna kelabu yang kupilih. Menurut temanku yang pria, model  yang kupilih bagus dan sesuai dengan harganya. Syukurlah.

Setelah membungkus barangku, seorang teman juga membeli sepasang sepatu. Aku berbincang-bincang dengan si penjual. Kutanyakan barang apa saja yang pernah dicoba untuk dijualnya. Katanya dagangan dompet dan ikat pinggang juga laku. Dengan semangat dia menceritakan suka dukanya. Hmm, ternyata himpitan ekonomi dan pemenuhah kebutuhan dasar hidup sehari-hari yang telah menempa jiwa mereka untuk bekerja keras. Mereka bukan dari kalangan mampu. Prinsipnya yang penting kerja halal dan tidak mengemis kepada siapapun. Modal yang mereka dapatkan adalah titipan barang dagangan dari si empunya usaha atau pabrik. Kejujuran dan kepercayaanlah yang utama. Tanpa sepeserpun. Ternyata si empunya pabrik yang memberi ongkos makan, ongkos jalan dan barang dagangan. Aku salut mendengar kisahnya.

Untunglah masih banyak pemuda yang tidak malu-malu menjajakan dagangan keliling. Bahkan, mungkin cara ini lebih menguntungkan dan lebih efektif. Mereka tidak perlu modal yang banyak untuk memulai usahanya. Tidak perlu menyewa kios ataupun toko dengan harga puluhan juta. Hanya semangat dan tenaga untuk memikul tas dagangan yang lumayan berat.

Kata si penjual, dagangannya bisa laku puluhan pasang dalam beberapa hari saja. Dia hanya menyewa kamar kost dengan beberapa temannya. Mereka membawa ratusan pasang sendal dan sepatu dari Bandung. Kota ini memang terkenal dengan usaha sepatu dan sendal kulit asli. Sambil mengemasi barangnya si penjual mohon pamit.

Hari semakin panas dan waktu makan siang tiba. Bersama beberapa teman kami makan di warung sebelah. Ada nasi bungkus,  pisang goreng,  soto Banjar, nasi goreng, lontong pecel dan rujak. Yang berjualan ada empat orang. Setiap hari warung ini buka dari pukul 7 sampai pukul 3 siang. Pelanggannya bervariasi mulai dari buruh bangunan, orang kantoran seperti aku, tetangga sekitar dan orang yang lalu lalang. Aku memesan segelas teh hangat dan nasi bungkus. Biasanya anak-anakku juga kuberi uang jajan secukupnya untuk makan siang di kantin sekolahnya. Inilah dilema wanita pekerja seperti aku. Dengan rentang jam kerja mulai dari pukul 7.30 sampai 15.30, maka mustahil bagiku untuk memasak di rumah. Hal ini pun dialami oleh rekan kerja yang lainnya. Suami-suami kami cukup mengerti dengan keadaan ini.

Akhirnya waktu kantor usai. Setelah apel siang kami pulang ke rumah. Dengan membawa sepasang sendal baru aku naik angkot menuju rumah. Jaraknya sekitar 30 menit perjalanan. Udara panas menerpa wajahku. Di dalam angkot ada seorang penjual jamu gendong dan laki-laki tua dengan pakaian lusuh. Di pundaknya bertengger tas coklat kumal yang agak berat. Sepertinya dia menempuh perjalanan yang cukup jauh. Wajahnya terlihat letih. Kulirik penampilannya dari ujung rambut ke ujung kaki. Mataku tercengang ketika melihat sepasang sendal butut yang dipakainya. Kelihatannya sendal itu sudah pernah dijahit dan koyak lagi. Aku trenyuh dan teringat dengan sendal baru yang kudekap. Apakah sebaiknya sendal baru ini kuberikan saja kepadanya?

Kalbuku bertempur antara ya dan tidak. Apakah si Bapak tidak akan tersinggung bila aku memberikan ini kepadanya?
Tiba-tiba Bapak itu seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Kakinya ditariknya agak ke dalam dan diapun tersenyum padaku. Wajahku memerah malu. Akhirnya kusodorkan bungkusan sendal baru dan berkata kepadanya. "Ini hadiah". Kebiasaan di kota kami, kalau kita menyebut kata-kata "hadiah", maka si penerima akan bersukacita menyambutnya. Dan, benar saja. Dia pun meraihnya sambil mengucapkan terima kasih.

Jalan menuju rumahku sudah dekat. Aku turun dan membayar ongkos angkot sambil menenteng tas kantorku. Mungkin langkah kakiku lebih ringan kali ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar